Audit Implementasi

Kegiatan yang menyita banyak waktu adalah membuat perencanaan dan menentukan target yang ingin dicapai. Pembuatan rencana bukan hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang profit oriented saja, organisasi non profit, baik yang formal maupun non formal, bahkan pribadi lepas pribadi, tua dan muda, beramai-ramai membuatnya. Rencana yang dibuat, umumnya selalu lebih baik dari yang lalu (meskipun rencana terdahulu belum terlaksana). Yang menjadi pertanyaan, bila setiap bulan, setiap semester atau setiap tahun selalu dibuat rencana yang lebih baik, seharusnya akan terjadi kemajuan yang pesat dimuka bumi ini. Tapi mengapa dalam kenyataannya tidak demikian? Dimana letak kesalahannya?  Dimana berhentinya proses kemajuan yang telah direncanakan itu?.

Menurut survei, suatu rencana pengembangan pada umumnya hanya 30% yang berhasil dieksekusi  dan 70% gagal.  Dari 70% yang gagal ini, 10% penyebab kegagalan ada pada design, sedangkan 60% gagal pada implementasi. 60% adalah angka yang besar, apa sebabnya angka kegagalan implementasi sampai sebesar itu? Kegagalan organisasi sering disebabkan lemahnya eksekusi beragam rencana, taktik dan strategi. Banyak rencana dan strategi marketing cuma menjadi mimpi-mimpi indah di setiap meeting atau berakhir di keranjang sampah. Apakah yang dimaksud dengan eksekusi?. Singkatnya eksekusi adalah suatu disiplin untuk melaksanakan dengan tuntas apa saja yang sudah direncanakan. Eksekusi merupakan suatu proses sistemik dalam mendiskusikan dan mempertanyakan secara rinci tentang apa dan bagaimana caranya agar suatu rencana berhasil dilaksanakan berdasarkan realitas yang ada, diikuti dengan kegigihan dalam memantau pelaksanaannya, dan menjamin akuntabilitas pelaksanaannya.

Disetiap perusahaan, akuntabilitas dan pemantauan paling ketat, biasanya dilaksanakan di sektor keuangan, karena apa yang terjadi di bagian keuangan akan menimbulkan dampak yang langsung, paling nyata dan paling cepat dirasakan. Sayangnya sampai saat ini, jarang sekali ada perusahaan yang melakukan pemantauan implementasi dari sekian banyak kebijakan-kebijakan yang telah diputuskan dan strategi yang telah disusun dengan menghabiskan banyak waktu dan dana. Pemantauan dan akuntabilitas keuangan biasanya dilakukan oleh bagian audit internal dan sebagian perusahaan menambahkan dengan audit eksternal. Kerugian yang ditimbulkan oleh kegagalan implementasi sulit dihitung secara tepat, mungkin itu yang menyebabkan hingga saat ini belum banyak perusahaan yang menyadari perlunya diadakan audit implementasi. Audit implementasi tidak semudah audit keuangan apabila dilakukan oleh pihak internal, karena implementasi suatu strategi biasanya melibatkan hampir seluruh bagian perusahaan, sehingga keterlibatan pihak internal akan riskan dengan “conflict of interest”. Jadi sudah saatnya perusahaan memikirkan dengan lebih serius, perlunya audit implementasi dari pihak eksternal.

Iklan

Outsourcing HRD Recruitment

Outsourcing, seringkali dipahami sebagai akal-akalan negatif dari suatu perusahaan demi menguntungkan dirinya sendiri, padahal maksud sebenarnya bukanlah demikian. Tujuan diadakannya outsourcing adalah agar suatu perusahaan dapat fokus pada bisnis intinya. Sebagai contoh sebuah Rumah Sakit, mengambil kebijakan outsourcing bagi pengadaan makanan untuk pasien dan karyawannya. Langkah ini positif, karena bisnis inti Rumah Sakit adalah pelayanan kesehatan. Dengan lepasnya urusan pengadaan makanan, maka manajemen dapat fokus meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Disisi lain, ia membagi rejeki pada perusahaan catering yang bisnis intinya adalah pengadaan makanan. Dengan diserahkannya pengadaan makanan pada perusahaan yang memang ahlinya, maka diharapkan mutu makanan bagi pasien meningkat kualitasnya. Jadi langkah ini paling tidak menguntungkan tiga pihak, yaitu pihak rumah sakit, pihak catering dan pihak pasien.

Setiap perusahaan besar maupun kecil selalu melakukan rekrutmen, sehingga tanpa disadari rekrutmen dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis itu sendiri. Selain perusahaan pengadaan tenaga kerja, dapat dipastikan perusahaan-perusahaan tersebut tidak akan fokus pada peningkatan kualitas rekrutmen, padahal rekrutmen adalah saringan pertama dan merupakan salah satu penentu dari output atau kinerja suatu perusahaan. Tidak heran ada istilah “Garbage in Garbage out”, yang artinya apabila kita memasukkan sampah, maka dapat dipastikan hasilnya pun sampah pula.

Rekrutmen biasanya diserahkan pada bagian HRD. Pada perusahaan-perusahaan besar, pada umumnya HRD diisi oleh orang yang sudah memiliki kompetensi untuk melakukan rekrutmen. Dengan kompetensi itu biasanya bagian HRD dapat melakukan rekrutmen dengan baik dan benar. Kendala yang seringkali masih dirasakan oleh perusahaan yang sudah memiliki staff HRD yang mumpuni, yaitu sulitnya mencari kandidat, dan adanya faktor KKN serta pertemanan pada saat rekrutmen sehingga dapat memengaruhi objektifitas dari asesmen yang dilakukan. Dengan diserahkannya sebagian proses rekrutmen pada pihak ketiga, diharapkan kendala-kendala yang ada dapat diminimalisir.